Aku dan Kebencian

Seorang pria datang menghampiriku, lama aku memandangi wajahnya. Aku mengenalnya, tak ada yang berbeda. Sangat mirip denganku, hanya saja senyum dan keceriaan terpancar dari wajahnya. Ia menghampiriku yang duduk bersandar, disebuah kursi di taman. Aku yang penuh dengan kesuraman, pandangan yang tanpa rasa, hampa. Angin yang menyibak rambutku dan terpaan dedaunan berjatuhan tak mampu mengisi kehampaan.

Dia hanya duduk disampingku, tanpa berbicara. Dengan hati-hati ia beranjak dari langkahnya berusaha agar aku tak menyadari keberadaannya. Tapi usahanya sia-sia, hangat merona yang terpancar dari wajahnya telah mencairkan dinginnya tatapanku pada rembulan.

Aku menunggunya berkata. Apapun yang akan dia katakan akan aku dengarkan, bahkan jika dia harus mencaci maki dan mengeluarkan sumpah serapah kepadaku. Tapi tidak, dia hanya diam dan tersenyum kepadaku. Semakin kesal rasanya karena aku semakin terpojok olehnya.

Dengan sisa kesabaran aku bertanya "siapakah dirimu yang tiba-tiba hadir mengejutkanku?". Dia bergeser sedikit dari tempat duduknya dan berkata "aku adalah dirimu dalam bentuk yang lain", tanpa berubah rona wajahnya sedikitpun. Semakin terkejutlah aku dibuatnya. Bagaimana mungkin ada orang lain yang mengaku sebagai diriku.

Melihat aku yang kebingungan dia melanjutkan ucapannya, "aku adalah dirimu, aku ada dalam dirimu, tapi kamu tak pernah sadar. Aku hidup dalam dirimu, tapi kamu tak pernah menghidupkanku."

Semakin bingung aku kembali bertanya "bagaimana kau bisa berada dalam diriku sementara mengenalmu saja aku tidak...?".

"Itulah dirimu yang sekarang, tak pernah mengenal siapa dirimu, hanya sibuk dengan kesalahan orang lain, sibuk membenci" berkata dia dengan santai.

Aku tersentak, kutatap dalam-dalam matanya dan kulihat diriku yang suram yang penuh kebencian. Dari situ pula lah aku melihat ada diriku yang lain, sisi lain yang tak menyimpan kebencian. Aku melihat diriku yang sekarang, semakin hilang ditelan oleh rasa benci.

Selagi aku terdiam dan termangu dia berkata "percayalah....aku telah lebih lama hidup dalam kebencian, dan itu hampir menghancurkanku, untuk apa menghabiskan waktumu untuk hal yang akan menghancurkanmu".

Aku tersentak oleh hembusan angin, sehelai daun melekat diwajahku. Kulihat pria tadi tak lagi disampingku, hanya hiruk pikuk orang-orang yang lalu-lalang.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengendalikan Waktu

The Legend Of......

Valentine (?)