Aku dan Kebencian
Seorang pria datang menghampiriku, lama aku memandangi wajahnya. Aku mengenalnya, tak ada yang berbeda. Sangat mirip denganku, hanya saja senyum dan keceriaan terpancar dari wajahnya. Ia menghampiriku yang duduk bersandar, disebuah kursi di taman. Aku yang penuh dengan kesuraman, pandangan yang tanpa rasa, hampa. Angin yang menyibak rambutku dan terpaan dedaunan berjatuhan tak mampu mengisi kehampaan. Dia hanya duduk disampingku, tanpa berbicara. Dengan hati-hati ia beranjak dari langkahnya berusaha agar aku tak menyadari keberadaannya. Tapi usahanya sia-sia, hangat merona yang terpancar dari wajahnya telah mencairkan dinginnya tatapanku pada rembulan. Aku menunggunya berkata. Apapun yang akan dia katakan akan aku dengarkan, bahkan jika dia harus mencaci maki dan mengeluarkan sumpah serapah kepadaku. Tapi tidak, dia hanya diam dan tersenyum kepadaku. Semakin kesal rasanya karena aku semakin terpojok olehnya. Dengan sisa kesabaran aku bertanya "siapakah dirimu yang tiba...