Mengendalikan Waktu
Cerita ini aku buat gara-gara liat mesin waktunya Doraemon. Masih dalam proses pengembangan dan kayak-kayaknya bisa dijadiin novel nih (halah ketinggian).
Langsung aja lah...
Nih, selamat membaca
*****************
Langsung aja lah...
Nih, selamat membaca
*****************
“Mesin waktu itu takkan pernah ada” aku
menyela penjelasannya.
“Tapi menurut teori fisika ini
memungkinkan suatu saat diciptakan mesin waktu” balasnya.
“Ya secara teori apapun bisa diciptakan,
tapi lihat ada berapa banyak penerapan dari teori-teori yang sudah ada? Tidak
sampai 2 %...” ujarku sok tau.
Wajahnya cemberut karena kesal sedari
tadi penjelasannya selalu aku sanggah.
“Lagipula jika suatu saat mesin waktu
bisa diciptakan, pasti saat itu tidak akan pernah datang. Untuk suatu alasan
menciptakan mesin waktu adalah hal yang mustahil” dengan nada agak serius aku
meyakinkannya.
“Kalau sudah ada teorinya cepat atau
lambat para ilmuwan akan berusaha menciptakannya, ini hanya masalah waktu.
Terserah kamu mau percaya teori ini atau tidak, tapi aku yakin suatu saat mesin
waktu akan diciptakan dan berguna bagi banyak orang”. Sepertinya dia mulai
mencampur adukkan imajinasi dan teori yang baru saja ia baca.
“Ah...lagipula berguna untuk banyak orang
apanya jika mesin waktu itu ada?. Apa manfaatnya dengan diciptakan mesin waktu.
Justru akan merugikan, bisa saja orang yang di masa sekarang tidak terima
dengan keadaannya kembali ke masa lalu dan melakukan hal yang merugikan orang
lain”. Saat itu aku juga mulai berfantasi jika mesin waktu itu memang
benar-benar ada.
Dengan muka cemberut tidak terima dari
tadi aku mendebatnya dia menutup buku Fisika yang baru saja selesai
pelajarannya. “Kalau semua orang berifikiran kayak kamu, ilmu pengetahuan tidak
akan berkembang” masih dengan wajah kesal dia memasukkan buku-bukunya ke dalam
tas kemudian mengambil dua buah roti dari bawah laci meja, satu diberikannya
untukku.
Waktu itu jam istirahat pertama
pelajaran, baru beberapa menit selesai pelajaran Fisika. Kebanyakan siswa
lainnya keluar kelas menuju kantin, ada yang duduk di taman sekolah sekedar
melepas penat dan ada beberapa yang seperti kami tetap tinggal di kelas.
Masih istirahat pertama biasanya aku dan
Rini tidak keluar karena masih agak pagi dan lebih suka menghabiskan waktu di
kelas saja. Jam istirahat yang singkat juga menjadi alasan lain kenapa kami
malas keluar.
Dia adalah Verrini Windia, duduk di
sebelahku di kelas 2 IPA 1. Di kelasku laki-laki dan perempuannya berjumlah
ganjil. Maksudnya laki-laki berjumlah 15 orang sedangkan perempuan 17 orang.
Dari 32 orang itu semuanya duduk sesuai gender, laki-laki dengan laki-laki dan
perempuan dengan perempuan. Pemilihan tempat duduk secara undian, supaya tidak
ada pilih-pilih teman sebangku. Begitu alasan ketika wali kelas kami membagi
tempat duduk.
Waktu itu pengambilan nomor undiannya
sesuai urutan absen, jadilah Rini urutan yang terakhir yang sudah dipastikan
tidak akan duduk dengan temannya yang perampuan juga. Sedangkan aku, sudah
sangat jelas pada hari pertama masuk sekolah dan pembagian tempat duduk aku terlambat
datang.
Sebenarnya aku sudah berada di sekolah,
hanya saja masih harus menerima hukuman. Ya karena itu tadi, datang terlambat.
Aku harus mengisi bak air di toilet guru karena saat itu air sedang mati dan
baknya kosong. Belum lagi setelahnya aku masih harus tetap menghormat bendera
selama setengah jam. Ya sepertinya itu adalah hari sialku.
Jangan tanya kenapa aku terlambat pada
hari itu, ceritanya akan lebih panjang.
Memasuki jam pelajaran ke-dua, aku sudah
boleh masuk ke kelas.
Dengan santai tanpa perasaan bersalah aku
menuju kelasku.
“Assalamualikum, izin masuk kelas
pak...!!” aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Saat itu wali kelasku pak
Cecep Gorbachev sedang berdiri di depan kelas, dan sepertinya mereka sedang
melakukan pemilihan ketua kelas.
Semua mata tertuju padaku, seonggok
daging yang cengengesan menunggu salamnya dijawab.
Mungkin karena riuhnya suasana jadi suara
salamku tidak terdengar, mereka hanya menyadari kehadiranku melalui bayangan
yang tiba-tiba menghalangi pintu.
“Wa alaikum salam, kamu di kelas ini
juga?” tanya pak Cecep padaku.
“Iya pak, maaf pak saya terlambat, tadi
udah dihukum...” masih dengan muka cengegesan aku sambil menggaruk-garuk
kepalaku yang tidak gatal.
Pak Cecep menyuruhku masuk “kamu duduk di
sana, sebelahnya Rini. Lain kali jangan terlambat lagi”.
Tanpa banyak tanya lagi pak cecep
menunjukkan di mana aku harus duduk. Memang dia tidak marah aku datang
terlambat, tapi pada saat itulah aku langsung merasa bersalah karena sudah
datang terlambat.
Teman-teman sekelas menertawaiku, mereka
mongolok-olok aku yang dapat tempat duduk dengan Rini. Ya karena dari dulu
mereka, termasuk aku juga tidak terbiasa di sekolah harus duduk dengan
perempuan. Sudah pasti akan di jodoh-jodohkan, disebut sebagai pasangan dan
tentu tidak bebas nantinya, bebas untuk ribut di kelas maksudnya.
Aku mengambil tempat dudukku di sebelah
Rini, sebelah kanannya. Dia memperhatikanku dengan pandangan yang aneh, dan
kuduga dia juga menahan aroma keringat yang bercampur pewangi murahan khas anak
SMA dari tubuhku.
Aku sudah duduk di bangkuku, dan
pemilihan ketua kelasnya dilanjutkan.
Di kelas 1 aku tidak begitu mengenal
Rini, aku hanya tau kalu dulunya dia itu dari kelas 1D. Bersebelahan dengan
kelasku 1E. Hanya kenal wajahnya, dan baru tau namanya di kelas 2 ini.
Hari itu aku menjadi perbincangan di
kelas. Teman-temanku yang satu kelas di kelas 1 menertawaiku habis-habisan.
Sisanya hanya ikut-ikutan mencoba mengakrabkan diri.
Dua minggu berlalu kekompakan di kelas ini semakin terasa.
Tidak ada lagi rasa canggung seperti hari-hari pertama dulu. Kami seperti sudah
mengenal lama, begitupun aku dan Rini.
*******
Dari kelas 1 dulu aku tidak pernah keluar
kelas ketika istirahat pertama. Sampai di kelas 2 ini pun masih sama. Ketika
banyak yang sekedar mencari udara segar keluar saat istirahat atau mencari
makan, aku biasanya duduk di kelas membaca komik, mengobrol dengan siapapun
yang tetap di kelas atau menggambar sesuka hatiku di papan tulis. Begitupun
dengan Rini, dia tidak pernah keluar kelas saat istirahat hanya saja dia tidak
membaca komik, dan tidak menggambar di papan tulis. Hanya membaca buku
pelajaran dan terkadang mengobrol dengan Rika yang duduk di depannya.
Pernah sekali hanya aku dan Rini yang
berada di kelas. Aku tidak membawa komik karena sebelumnya komik yang aku bawa
disita saat razia. Sedangkan jam pelajaran selanjutnya adalah Kimia dengan buk
Murni yang terkenal sadis. Pilihannya untuk menunggu bel masuk adalah membuka
percakapan dengan Rini.
Ya selama ini aku hanya bicara yang
perlu-perlu saja dengan Rini.
“Gak pernah keluar Rin...” aku mencoba
seakrab mungkin menyapanya.
“Ha apa...?? “ sepertinya dia tadi kurang
mendengarkan aku menyapanya.
“Di kelas terus pas istirahat, di bangku
kamu ada lemnya ya?” aku mencoba melucu.
Iya aku sadar saat itu leluconku garing,
tapi hanya itu yang mendadak muncul di pikiranku.
“He.. kamu juga tuh, gak pernah keluar
kalo istirahat pertama”
“Ah gak tuh, aku sering kok keluar pas
istirahat...” aku berbohong mencoba membela diri.
“Hmmmm ketahuan bohongnya, mana
pernah.... tiap hari di kelas kalo gak baca komik corat-coret papan tulis, atau
ketawa-ketawa...”
“Hehe iya, males aja keluar.... enakan di
kelas lebih santai...” tanpa ditanya aku menjawab dengan asal.
“Lagian masih pagi, mau ke kantin masih
kenyang belum lagi rame antri udah habis waktu buat ngantri. Nongkrong di taman
masih terlalu pagi juga, belum jamnya....”
“Maksudnya...??”
“Iya aku biasa nongkrong di taman kalo
udah malam, taman lawang.....” jawabku seenaknya.
“Hahahha...sialan...” dia tertawa dengan
lelucon murahan yang aku beli saat berangkat ke sekolah tadi pagi.
“Kamu gak lapar rin? “ aku balik
bertanya.
“Gak, tadi di rumah udah sarapan
juga....paling makan ini nih buat ganjel lapar...” dia menunjukkan roti isi
coklat yang dikeluarkannya dari laci mejanya.
Selama ini aku tidak pernah menyadari
kalau dia tiap hari membawa roti.
“Yaah cuma satu ngapai juga dikeluarin,
nanti aku minta kamu gak ngasih kan kamu jadinya pelit....”
“Iya deh aku kasih...tapi bagi dua ya...”
“Emang cukup kamu cuma setengah, aku sih
cukup... kalo kamu kan makannya banyak...” aku coba menggodanya.
“Yeee enak aja aku makannya banyak, kamu
tuh....liat pipinya aja tembem....” sambil menujuk ke arah pipiku.
Saat itu kami mulai akrab walaupun sedang
berebut roti.
“Ih apa hubungannya pipi tembem sama
makan banyak, gak ada ya.....kamunya aja yang gak niat ngasih kan. Udah kalo
memang niat ngasih sini semuanya, tiap hari kan kamu makannya roti juga”
“Gak mau....” Dia langsung membuka
plastik bungkus roti dan membagi dua rotinya “ini kalau mau ambil, kalo gak aku
ambil lagi nih....” diletakkannya sebagian roti yang dibelahnya di mejaku dan
langsung memakan bagiannya.
Cepat-cepat kuambil roti yang
diberikannya karena kesal dia tidak mau memberikan semua rotinya untukku. Aku
bermaksud membuatnya kesal dengan mencegah dia mengambil kembali rotinya.
Beberapa detik saja setengah roti yang
diberikannya telah berada di perutku. Roti isi cokelat, rotinya yang lembut dan
rasa coklat yang menyenangkan kulahap cepat karena rasanya yang nikmat. Aku
mengerti kenapa dia berat membagikan roti seenak itu. Akupun akan sama
sepertinya jika tau roti itu seenak ini.
“ini roti apa sih? Kok enak....?” aku
mengambil bungkus plastik bekas roti tadi ingin melihat merknya. Tapi tidak
kutemukan tulisan apapun di bungkus plastik tadi sebagai penanda merk dagang.
“Roti buatan sendiri....” jawabnya
santai.
“Buat sendiri kok bungkusnya rapi, kayak
dijual di toko gitu.”
“Iya, buatan ibu untuk dijual ke
toko-toko.....”
“Ooooo...pantas aja enak...”
Sejak hari itu aku jatuh cinta, ya jatuh
cinta dengan roti isi cokelat buatan ibunya Rini dan memutuskan bahwa roti
cokelat adalah favoritku. Selama tiga hari aku selalu meminta roti yang dia
bawa. Karena Cuma membawa satu dengan terpaksa ia membagi dua rotinya. Hingga
kemudian dia selalu membawa dua buah, satu untukku dan satu untuknya.
Komentar
Posting Komentar